“MELALAIKAN ALKITAB, MENGABAIKAN ALLAH”

Pada tahun 2002, di Amerika Serikat yang penduduknya mayoritas beragama Kristen, pernah diadakan sebuah survei tentang minat baca dan pengetahuan orang-orang Amerika tentang Alkitab.

Hasilnya adalah sebagai berikut:

• 48% tidak dapat menyebutkan secara lengkap nama 4 buah kitab Injil.

• 52% tidak dapat menyebutkan lebih dari 3 nama murid Yesus Kristus.

• 60% tidak dapat menyebutkan 5 saja dari “Sepuluh Perintah Allah” (The Ten Commandments).

• 61% mengira bahwa “Khotbah di Bukit” (The Sermon on the Mount) adalah khotbah Pdt. Dr. Billy Graham, padahal jelas sekali adalah khotbah Yesus sendiri.

• 71% mengira bahwa kalimat, “Tuhan menolong mereka yang menolong dirinya sendiri” adalah sebuah ayat Alkitab.
Padahal kutipan kalimat itu adalah kutipan dari karya Benjamin Franklin dalam Poor Richard’s Almanac (1757).

Survei ini sebenarnya menggambarkan betapa kurangnya pengetahuan tentang Alkitab yang dimiliki oleh orang-orang Kristen di Amerika Serikat,
dan sebenarnya fenomena rendahnya minat mempelajari Alkitab ini, merupakan sebuah fenomena yang banyak ditemukan di kalangan orang-orang Kristen di berbagai belahan dunia.

Ketika Yesus dicobai oleh Iblis di padang gurun, Yesus berkata dalam Matius 4:4,

“Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”

Melalui perkataan-Nya ini, Yesus hendak menegaskan bahwa firman Allah mutlak kita perlukan untuk kesehatan rohani kita,
seperti halnya kita membutuhkan makanan untuk kesehatan jasmani kita.

Sayangnya, seringkali yang terjadi adalah kita hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan dan kesehatan jasmani kita saja, tetapi kurang memberikan perhatian yang sepatutnya kepada kebutuhan dan kesehatan rohani kita.

Memang benar, memiliki pengetahuan yang baik tentang Alkitab atau firman Tuhan, tidak serta merta menjamin bahwa seseorang juga memiliki kerohanian dan perilaku yang baik.

Namun, kita tidak mungkin memiliki kerohanian yang dewasa dan perilaku yang baik, jika melalaikan belajar firman Tuhan.
Teori yang buruk akan membawa kita kepada praktik hidup yang buruk.

Almarhum Pdt. Dr. John Stott (1921-2011) yang dikenal luas di seluruh dunia sebagai seorang teolog, pengkhotbah, dan penulis Kristen, menyatakan,

“Melalaikan Alkitab, berarti mengabaikan Allah. Mendengarkan Alkitab berarti mendengarkan Allah.”

Bagaimana mungkin kita dapat hidup memuliakan, mengasihi, dan menaati Allah, jika kita tidak mengenal dengan baik kehendak dan perintah-perintah Allah dalam hidup kita?

Ketaatan menurut Alkitab bukanlah ketaatan buta, tetapi ketaatan yang berasal dari kasih, iman, ketulusan, dan penuh kesadaran.
Allah telah menyatakan kehendak dan perintah-perintah-Nya kepada kita melalui firman-Nya yang tertulis di dalam Alkitab.

Setiap orang percaya membutuhkan tuntunan kebenaran firman Tuhan dalam hidup sehari-hari. Bahkan seseorang bisa lulus Sekolah Teologi,
tetapi tidak berarti sudah lulus belajar Alkitab, karena seumur hidup kita harus belajar Alkitab, belajar sabda-Nya yang kudus.

Belajar firman seharusnya bukan dengan motivasi keangkuhan diri dan merasa diri cukup memadai, bukan untuk mengesankan orang lain,
bukan hanya demi informasi dan pengetahuan,
bukan karena profesi,
bukan hanya demi kewajiban agamawi, dan semata-mata disiplin rohani,
tetapi lebih dari semua itu;
kita belajar firman Tuhan dengan sikap hati yang benar,
belajar firman untuk transformasi hidup,
untuk menjalin relasi dan keintiman dengan Tuhan,
belajar firman untuk makin mengenal, mengasihi, dan menaati Allah dalam hidup kita sehari-hari.

Mari kita memasuki Tahun Baru 2018 dengan kerinduan dan komitmen untuk berjalan bersama Allah dan firman-Nya.

Mari kita menghampiri sabda-Nya dengan sikap hati seperti Pemazmur,

“Ketetapan-Mu membuat aku senang; ajaran-Mu takkan kulupakan.

Kiranya Engkau bermurah hati kepada hamba-Mu ini, supaya aku tetap hidup dan mentaati ajaran-Mu.

Bukalah mataku supaya aku melihat ajaran yang mengagumkan dalam hukum-Mu” (BIS-Mazmur 119:16-18). Amin.

(Oleh: Ev. Binsar)

“MELALAIKAN ALKITAB, MENGABAIKAN ALLAH”
Tagged on:                 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: