“MENYANYIKAN KASIH SETIA TUHAN” (Mazmur 89:1-9)

Oleh: Ev. Binsar

“Aku hendak menyanyikan kasih setia Tuhan selama-lamanya”.
Dalam kehidupan pribadi, keluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, mungkin kita mempunyai begitu banyak alasan untuk mengeluh dalam hidup ini. Mungkin kenyataan hidup ini masih begitu jauh dari harapan kita.
Namun, kita harus selalu sadar bahwa kita masih hidup di dunia yang tidak ideal, dunia yang sudah cemar oleh dosa. Selama hidup di dunia ini, pasti ada selalu masalah dan pergumulan. Kita bukan hidup di surga.

Mazmur 89 ini mengingatkan kita bahwa di dalam iman, kita mempunyai alasan yang kokoh untuk tetap percaya kepada Tuhan, sehingga kita dapat menyanyikan kasih setia Tuhan.
Hal ini memang tidak mudah, menyanyikan kasih setia Tuhan di tengah-tengah penderitaan dan kesulitan hidup manusia.

Orang beriman harus optimis, tetapi juga realistis.
Tantangan kita besar, kesulitan kita banyak, dan hari esok kita bukanlah tanpa masalah.
Iman bukan membutakan kita bahwa dalam hidup ini memang ada banyak masalah dan pergumulan.
Namun demikian, kita diajak oleh Pemazmur untuk melihat hidup ini dari sudut pandang yang lain, yaitu dengan mengimani dan mengamini, “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia Tuhan”. Oleh sebab itu, hidup kita selalu ada pengharapan!
Kita percaya bahwa Tuhan selalu lebih besar dari masalah sebesar apapun juga.

Pemazmur berkata, “Sebab siapakah di awan-awan yang sejajar dengan Tuhan, yang sama seperti Tuhan diantara penghuni surgawi?
Ya Tuhan, Allah semesta alam, siapakah seperti Engkau? Engkau kuat, ya Tuhan, dan kesetiaan-Mu ada di sekeliling-Mu” (ayat 7, 9).
Pengharapan dalam hidup kita memang tidak terwujud dengan sendirinya.
Kita harus mau dan berani berjuang keras dalam hidup ini.

Tuhan tidak menjanjikan perjalanan hidup kita selalu nyaman dan aman, tetapi Tuhan menjanjikan penyertaan-Nya, kasih setia-Nya senantiasa melingkupi kita.
Di Tahun Baru 2018 tentu ada masalah dan kesulitan hidup yang akan kita hadapi. Namun, di dalam Tuhan selalu ada pengharapan dan kekuatan.
Sebenarnya, yang terpenting bukanlah seberapa besar masalah yang akan kita hadapi, tetapi bagaimana sikap/respons kita di dalam menghadapi masalah-masalah itu dengan bersandar penuh pada Tuhan dan hikmat-Nya.

Marilah kita dengan pemahaman iman seperti Pemazmur ini memasuki Tahun Baru 2018.
Tuhan menyertai dan memimpin langkah-langkah hidup kita!

(Solo, 30 Desember 2017)

“MENYANYIKAN KASIH SETIA TUHAN” (Mazmur 89:1-9)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: