MERAYAKAN NATAL: GAMPANG ATAU SUSAH?

(Oleh: Ev. Binsar)

Merayakan Natal, gampang atau susah?
Kalau asal merayakan Natal memang kelihatannya sangat mudah, tetapi di zaman sekarang, merayakan Natal dengan sikap yang benar sesungguhnya “susah” atau tidak mudah.
Mengapa saya katakan “tidak mudah”?
Karena ada begitu banyak godaan yang mencoba menggiring dan menyeret kita, untuk keluar dari makna Natal yang sesungguhnya.

Contohnya, coba perhatikan di mal-mal, toko-toko, tempat hiburan, dan tempat perbelanjaan.
Di sana lagu-lagu Natal sudah dikumandangkan, mal-mal menghiasi dirinya dengan pernak-pernik Natal, asesoris Natal, pohon Natal yang “wah”, para karyawan toko pakai topi Sinterklas, walaupun mungkin pemiliknya dan para karyawan itu bukan
orang Kristen.
Figur Sinterklas menjadi lebih terkenal dan lebih menarik daripada figur Yesus Kristus. Ditambah lagi dengan obral dan diskon besar di bulan Natal.
Semua nuansa itu dikondisikan untuk mendorong nafsu konsumtif para pengunjung.
Mereka merayakan Natal, tetapi diri mereka tidak ada relasi pribadi dengan Yesus Kristus.
Pribadi Yesus tidak ada sangkut pautnya dengan diri mereka.

Dalam budaya materialisme dan konsumerisme ini,budaya yang memberhalakan materi dan belanja berlebihan ini, merayakan Natal dengan benar makin tidak mudah.
Kita seringkali lebih disibukkan dengan “bungkusnya Natal”, kemasan luarnya, bukan pada isi, makna, dan esensinya.

Tahukah Anda, pohon Natal termahal di dunia, ternyata bukan ada di negara Eropah yang mayoritas Kristen, bukan juga ada di negara yang mayoritas beragama Katolik. Tetapi justru ada di lobby Hotel Emirates Palace di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), yang penduduknya mayoritas beragama Islam.
Harganya diperkirakan 11,4 juta US Dollar, atau sekitar Rp. 153,27 Miliar.

Yang membuat pohon Natal ini sangat mahal adalah perhiasan, ornament, yang digantung pada pohon itu. Pohonnya saja berharga 90 juta rupiah dengan tinggi 13 meter. Pohon itu dihiasi anting, kalung, dan berbagai perhiasan lainnya.
Totalnya ada 181 jenis perhiasan/ornament yang terbuat dari batu berlian, permata, batu safir, batu emerald, dan batu-batu mulia yang sangat mahal.

Mereka membuat pohon Natal termahal di dunia, bukan karena mereka mencintai Yesus Kristus, tetapi untuk menarik wisatawan asing berkunjung ke sana, dan mungkin supaya ada kebanggaan masuk dalam Guinness Book of World Record.
Padahal Yesus lahir dalam kehinaan, bukan dalam kemewahan.
Yesus lahir di palungan yang hina.
Seandainya Yusuf dan Maria hidup di zaman sekarang, mungkin mereka pun juga tidak mampu beli pohon Natal.

Tidak salah kita mengenakan pakaian baru pada saat Natal. Tidak salah kita menghiasi rumah dan gereja kita dengan pernak-pernik Natal, pohon terang, dan sebagainya.
Tidak salah jika kita saling bertukar kado pada saat Natal.
Tidak salah kita merayakan Natal dengan gembira, karena peristiwa Natal adalah Kabar Sukacita bagi dunia ini.
Itulah sebabnya, sejumlah besar bala tentara surga memuji Allah pada saat kelahiran Yesus, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi diantara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Lukas 2:13-14).

Perayaan Natal, pohon terang, pernak-pernik Natal, tukar kado, semua itu baik. Namun kita harus waspada, semua itu tidak akan memiliki arti/nilai apa-apa bagi kerohanian kita, sebelum kita menjadi manusia yang diinginkan oleh Allah.

Natal yang kita rayakan tidak akan berarti apa-apa, jika peristiwa itu tidak mengubah diri kita menjadi lebih baik, dan menjadi pribadi yang Allah inginkan.
Apa yang Allah inginkan dalam hidup kita?
*Semua itu diringkas dalam Hukum yang terutama dan yang pertama:
Mengasihi Allah dengan segenap keberadaan diri kita, mengasihi sesama manusia seperti kita mengasihi diri kita sendiri, dan memperlakukan orang lain seperti diri sendiri ingin diperlakukan (Matius 22:37-40; Matius 7:12).*
Inilah alat ukur evaluasi kerohanian kita.

Selamat mempersiapkan diri menyambut Natal tahun ini. Christmas is Jesus Christ!

Biarlah di masa Advent ini, kita merenung dan menghayati, apa sebenarnya makna kelahiran Yesus bagi kita, dan biarlah kita terus tekun dan setia menjalani panggilan hidup kita dalam masa penantian kedatangan Kristus yang kedua kali ini.

Kiranya Tuhan dimuliakan melalui ibadah, perayaan, pelayanan, dan hidup kita! Amin.🙏🏽🙏🏽

(Solo, 2 Desember 2017)

Merayakan Natal: Gampang atau Susah?
Ditag pada:                

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: